Morris Minor 100, Mobil Klasik yang Kondang Sebagai Oplet ‘Si Doel’

Meski tak lagi muda, mobil-mobil tua tetap tak kehilangan pesona. Justru di usianya yang semakin senja, mobil tua memiliki daya tarik tersendiri. Keunikan bodinya kerap membuat banyak pecinta mobil klasik jatuh cinta bahkan hingga rela menggelontorkan banyak uang demi bisa meminangnya. Apalagi jika mobil tua tersebut masuk dalam kategori mobil sangat langka dan bernilai sejarah, sehingga menjadi rebutan. Diantaranya banyak mobil klasik yang menjadi rebutan adalah Morris Minor 100.

Namanya mungkin tak begitu familiar di telinga generasi masa kini dan orang awam yang tak demen dengan mobil klasik. Namun, saat disebutkan oplet, orang Indonesia pasti mengetahuinya, bahkan mungkin hingga generasi-genarasi kids jaman now. Ya, hal ini memang tak terlepas dari realita bahwa Morris Minor 100 adalah mobil klasik yang kondang sebagai Oplet ‘Si Doel’.

Oplet sendiri merupakan sebutan untuk mobil penumpang ukuran kecil yang sudah ada sejak 1950-an. Keberadaaanya menjadi bagian penting dari sejarah panjang transportasi publik di jantung ibu kota. Operasionalnya sebenarnya sudah dimulai sejak 1930 silam. Pada awalnya, wilayah operasinya cukup terbatas, meliputi Jakarta Timur, seperti Pasar Kramat Jati, Cijantung, Cibubur, Cilangkap, dan Cisalak. Namun, menyusul adanya izin trayek resmi pada 1950-an, Oplet semakin meluas wilayah operasinya.

Sekitar satu dekade berikutnya, oplet menjadi begitu tenar. Sekitar 1960-an hingga 1970-an, oplet menjadi kendaaraan yang begitu populer di Jakarta. Trayek Oplet di Ibu Kota Jakarta cukup luas. Morris - begitu kira-kira sebutan yang lebih beken daripada Oplet, biasa melenggang dari kawasan Jatinegara hingga Kota. Rutenya meliputi Jatinegara melintasi Matraman Raya, Salemba Raya, Senen, Pasar Baru kemudian memutar hingga kawasan Harmoni.

Menyusul berdirinya Terminal Kampung Melayu, Oplet pun semakin mendapatkan tempat. Trayeknya pun meluas hingga beberapa wilayah, seperti Kampung Melayu-Tanah Abang, Kota-Tanjung Priok, dan Tanah Abang-Kebayoran Lama.

Sayang, Oplet kemudian terpaksa dipensiunkan karena alasan usianya semakin tua. Gubernur DKI Jakarta, Tjokropranolo pun mengeluarkan kebijakan pada 1979 untuk menghapuskan Oplet dan menggantinya dengan angkuta jenis baru yang kemudian masyur dengan sebutan Mikrolet.

Meski sudah tidak beroperasi, nama Oplet nyatanya kembali diperbincangkan pada era 1990-an. Hal ini menyusl tayangnya sinetron Si Doel Anak Sekolahan di stasiun TV swasta RCTI. Dalam film tersebut, Oplet menjadi ikon dan merupakan kendaraan yang digunakan untuk mencari nafkah pemiliknya, yaitu si Doel yang diperankan oleh Rano Karno dan Mandra.

Morris Minor 100 sejatinya merupakan jenis sedan yang hanya mampu memuat 5 penumpang. Namun, mengingat penggunaannya sebagai angkutan umum, perusahaan karoseri merombaknya, sehingga mampu memuat 10 penumpang.

Morris Minor 100 diproduksi  mulai 1957 hingga tahun 1971. Selama masa tersebut, sekitar 1,6 juta Morris Minor berhasil dipasarkan, termasuk di Indonesia. Lebih dikenal sebagai kendaraan angkutan umum di Tanah Air, mobil ini memiliki dua pintu di bagian depan dan 1 pintu di bagian belakang. Dirancang sebagai oplet, Morris Traveller pun dilengkapi dengan jendela yang bisa diangkat dan diturunkan sendiri oleh penumpang. Mobil ini benar-benar memiliki jendela yang unik, di mana hampir seluruhnya terbuat dari kayu.

Keunikan juga terletak pada lampu sein yang berada di sisi kanan dan kiri. Klaksonnya pun terbilang nyeleneh karena berada di bagian luar. jika  membandingkannya dengan kebanyakan mobil, termasuk mobil zaman dulu sekalipun. Untuk menggunakan klakson tersebut harus dipencet karena bahannya terbuat dari karet.

Sementara itu, lepas dari masa ketenaran film Si Doel, ternyata tidak membuat Morris Minor 100 alias si Oplet hilang dari ingatan. Sebaliknya, keberadaannya justru dicari bahkan selalu sukses menggoda  para pecinta mobil klasik. Baru-baru ini, salah satu koleksi  Morris Minor 100 pun turut mejeng di ajang  Pameran otomotif bertajuk ‘Indonesia Classic N Unique Bus 2019’ yang digelar di Hall B JIEXPO Kemayoran, Jakarta pada, 20-22 Maret 2019 lalu.

Morris Minor 100 yang unjuk gigi di perhelatan otomotif akbar di Tanah Air itu buatan tahun 1957. Morris Minor 100 tersebut adalah milik Salim, seorang kolektor asal Jakarta Timur. Ia menyebut jika mobilnya tersebut merupakan warisan kelurga. “Ini mobil warisan. Dulu pas ada peremajaan dari oplet ke Kijang sama Colt, oplet ini saja jadikan plat hitam,” katanya di lokasi pameran 20 Maret lalu sebagaimana dikutip dari gridOto.com.

Ia pun mematok harga yang cukup fantastis untuk mobil klasik miliknya itu. Tak tanggung-tanggung, ia baru bersedia melepaskannya jika ada yang menyodorkan mahar di atas Rp 500 juta. Bukan tanpa alasan jika ia mematok harga yang tinggi. Dikatakannya jika Morris Minor 100 miliknya itu masih menggunakan komponen asli semua. Kelangkaan mobil tersebut juga menjadi dasar di balik tingginya patokan harga yang ditetapkannya.

Bukan itu saja, tingginya harga yang disodorkan tidak terlepas dari kondisi mobil klasiknya yang ‘masih sehat’ di usianya yang sudah paruh baya itu. Mobil kesayangannya itu bahkan masih bisa digunakan dalam perjalanan jauh. “Masih dipakai buat harian, kemarin saja saja saya habis touring dari Magelang,” katanya. (Y)