Mitsubishi L100 Minicab, si Gesit di Medan Sempit

Bicara soal mobil tua di memang tak ada habisnya. Baik mobil yang dikeluarkan oleh pabrikan-pabrikan Eropa dan Amerika maupun oleh kawasan Asia Timur. Pabrikan yang disebut belakangan mengacu pada produk buatan Jepang. Seperti diketahui, Negeri Sakura memiliki banyak produsen mobil yang terkenal di dunia. Salah satunya adalah Mitsubishi Motors yang merupakan salah satu anak perusahaan Mistsubihi.

Sepak terjangnya di jagad industri otomotif komersil memang bisa dikatakan cukup lama. Perusahaan yang berbasis di Tokyo ini telah mulai didirikan sejak 22 April 197. Banyak seri diperkenalkan ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia hingga kini. Pajero boleh jadi menjadi satu dari banyak merek lain yang paling beken dan mudah diingat oleh generasi saat ini.

Namun, jauh sebelum kemunculan Pajero, nama Mitsubishi sebenarnya sudah lama melegenda di Tanah Air dan bahkan di dunia. Bukan berkat mobil berbodi besar dengan mesin berkapasitas besar layaknya Pajero, melainkan berkat mobil mini nan mungil. Mobil itu tak lain adalah Mitsubishi L 100 Minicab. Hadir tanpa moncong seperti banyak kendaraan masa kini, Mitsubishi L100 Minicab, si Gesit di Medan Sempit bisa dikatakan sebagai si gesit di jalanan sempit.

Sebelum membicarakan keberadaan mobil ini di Indonesia, terlebih dulu dibicarakan posisinya dalam kancah global. Mitsubihi L100 Minicab dirancang sebagai produk global. Selain di kampung halamannya, penjualannya juga dilakukan di Amerika Selatan dan pembuatannya dibuat di Chile. Tak mengherankan jika mobil ini juga banyak dijumpai di Amerika Selatan saat ini.

Khusus untuk seri yang dijual di negara-negara tersebut mayoritas merupakan model van dengan pintu geser dan pintu belakang yang dibuat naik ke atas atai hatch back, seperti kebanyakan mobil Jepang masa kini.

Berbeda halnya dengan di Indonesia, mobil ini dipasarkan dalam dua bentuk, yaitu minibus dan pick up. Mobil ini mulai diproduksi mulai tahun 1977 hingga 1983. Namun, unit yang banyak dijumpai di Tanah Air rata-rata merupakan produksi tahun 1980 s/d tahun 1983 saja.

Mitsubishi L100 Minicab tergolong mobil langka ditinjau dari mesinnya. Dikatakan langka, lantaran mobil dengan 2 silinder sangat jarang dijumpai, terutama di Indonesia. Ya, mesin mobil ini hanya berkapasitas 500 cc dengan 2 silinder saja. Meski tak menyunggi mesin besar, bukan berarti mobil ini tak bisa melibas jalanan dengan lancar. Di eranya, mobil ini dikenal irit dan bandel.

Mobil ini mampu menempuh jarak hingga 19 kilometer hanya dengan 1 liter bensin saja. Si mungil yang sudah cukup berumur ini bahkan bisa melaju hingga kecepatan  110 km/jam. Berkat kemampuan ini, Mitsubishi L100 Minicab masih bisa diajak masuk jalan tol dan percaya diri melenggang diantara banyak mobil dengan wajah masa kini.

Minicab L100 memiliki sistem rangka yang terpisah dari bodi. Hal ini memungkinkan bodi bisa dilepas sendiri. Oleh karena itu, saat terjadi keropos, perbaikan rangka pun akan sangat mudah dilakukan. Rangkanya sendiri memiliki bentuk melengkung di belakang, sedangkan pada ujung-ujungnya tampak membulat.

Rancangan bodi yang demikian ini, rupanya memberikan arti di kemudian hari bagi para pemilik Mitsubishi L100 Minicab. Usai masa keemasannya, sampai saat ini Minicab L100 masih banyak dijumpai di pedesaan. Orang menyebutnya dengan sebutan Minion atau srunthul. Mobil ini masih banyak digunakan oleh warga di pinggiran-pinggiran kota dan desa untuk angkutan.

Berkat kemudahan modifikasi rangkanya, mobil ini acap kali disulap menjadi ‘bentuk lain’. Sebut saja seperti menjadi mesin selep padi atau angkutan serbaguna lainnya.

Bicara soal sistem kemudi, Minicab L100 menggunakan sistem rack and pinion dengan menggunakan drag link yang mendorong center lever/idler center arm yang kemudian diteruskan oleh tie rod menuju tie rod end. Hal ini selanjutnya yang akan mendorong knuckle roda membelok kiri atau kanan. Ihwal handling, si srunthul terbilang bagis karena sudah menggunakan steering system model rack and pinion.

Lanjut ke soal suspensinya. Suspensi Minicab L100 pada bagian depan menggunakan double wish bone bertipe damper yang dilengkapi per spiral dan schock breaker di tengah. Untuk suspensi belakang berupa  schockbreaker. Mobil ini memiliki 2 tipe as belakang. Untuk mobil buatan tahun 1980-1982 awal memakai gigi teromol, sedangkan yang diproduksi tahun 1982 akhir hingga 1985 sudah menggunakan as belakang payung.

Sementara itu, jauh dari masa keemasannya, Mitsubishi L100 Minicab sampai saat ini masih banyak dijumpai. Selain dijumpai dalam ‘bentuk lain’ - seperti disebutkan di atas diubah menjadi mesin selep padi dan lain-lain, mobil ini nyatanya masih banyak dijumpai dalam bentuk aslinya sebagai Mitsubishi L100 Minicab ‘sesungguhnya’.

Tetap tingginya populasi Mitsubishi L100 Minicab tidak terlepas dari munculnya klub-klub atau komunitas pecinta mobil klasik tersebut. Tingginya peminat Mitsubishi L100 Minicab juga tidak terlepas dari kemudahan perawatannya.

Mobil dengan tipe 2 silinder seperti ini, sangat sensitif dengan oli. Oleh karena itu, jika ingin mobil tidak mudah ‘ngambek’ atau bahkan ‘jatuh sakit’, kebutuhan olinya harus diperhatikan benar. Selain itu, onderdil alias suku cadang mobil ini mudah didapatkan dan harganya pun ramah di kantong. Bagaimana, Anda berminat juga memiliki mobil tua ini? (y)