Mengulik Toyota Buaya, Jawaranya Angkutan Muatan Berat

Toyota menjadi merek yang tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia untuk saat ini. Pabrikan Jepang ini memang terbilang memiliki pangsa pasar yang signifikan di sektor SUV, MPV atau city car. Namun, tidak demikian di awal kemunculannya di Tanah Air. Toyota mulai memasuki pasaran Indonesia pada 1960-an, tetapi saat itu kemungkinan hanya melalui importir umum.

Hal ini mengingat PT Toyota Astra Motor (TAM) baru berdiri pada  1971. Di awal kemunculannya, tentu saja Toyota tidak setenar saat ini. Namanya bahkan menjadi merek yang sama sekali baru di pasar otomotif negeri ini. Pasalnya, pada periode tersebut, pasar otomotif domestik lebih didominasi oleh merek-merek asal Eropa dan Amerika, seperti Thames Trader, Ford, GMC, Chevrolet, Dodge juga Fargo.

Sebagai pemain baru kala itu, Toyota menggebrak pasar dengan memboyong kendaraan yang digadang-gadang menjadi jawara angkutan muatan berat. Produk tersebut diwujudkan dalam bentuk truk yang di-branding dengan nama Truck Toyota. Truk tersebut memiliki seri Toyota A Series (A 100) atau lebih dikenal dengan nama Truk Buaya.

Penyebutan namanya itu tak terlepas dari bentuk moncong depan bagian kepalanya yang menyerupai mulut buaya. Apalagi jika kap mesin dibuka, maka akan sangat mirip dengan mulut buaya yang tengah menganga.

Pemasaran Toyota Buaya di Indonesia dimulai pada 1969 hingga 1971 oleh Astra International. Namun, menyusul berdirinya TAM pada 1971, maka pemasaran truk tersebut diambil alih oleh TAM hingga akhir masa edarnya pada 1986. Sebagai pemain baru di pasar otomotif Indonesia, TAM terbilang gesit dalam melakukan manuver pasar. Toyota A-series atau Toyota Buaya pun menjadi primadona bagi TAM.

Hal tersebut dibukikan dengan dibuatkannya fasilitas pembuatan suku cadang khusus seri tersebut pada 1973. Hanya berselang dua tahun kemudian, TAM sudah mampu mengekspor truk A-series dalam bentuk terurai (SKD) ke berbagai negara, termasuk diantaranya ke Australia dan Nigeria.

Di Indonesia sendiri, Toyota Buaya tersedia dalam dua model mesin, yaitu FA100 atau bermesin bensin dan seri DA100 bermesin Diesel.  Seri FA 100 menyunggi mesin berkapasitas 3878cc, 130ps 4MT, GVW 9 ton. Seri ini banyak digunakan oleh instansi pemerintah.  Toyota pun memberi facelift pada seri ini pada tahun 1976. Versi facelift tersebut memiliki warna standar kabin hijau lumut, lampu sein mirip dengan milik TLC J40, serta grill dgn aksen 2 palang vertikal. Mesinnya pun mendapat pembaharuan, sehingga lebih bertenaga.

Sementara itu, Toyoya Buaya DA Series atau yang bermesin Diesel mengusung mesin berkapasitas 6494 cc dengan 6 silinder. Tenaga yang dihasilkan dari seri ini cukup besar hingga 130 pc. Versi upgrade-nya pun malahan memiliki tenaga maksimal 140 ps, yaitu pada seri DA110 dan DA110H. varian DA110H merupakan varian khusus yang ada di Indonesia dan dilengkapi dengan rem AOH dan gardan dengan kapasitas yang lebih besar. Toyota Buaya versi Diesel menggunakan sistem pembakaran indirect injection, sehingga tidak terlalu peka dengan kualitas solar.

Bicara soal ketangguhan, Toyota Buaya terbilang juaranya! Mesinnya yang berkapasitas besar tak ayal membuat truk ini mampu melibas medan jalanan yang sulit sekalipun, seperti tanjakan. Dirancang sebagai moda angkutan muatan, Toyota Buaya pun ternyata tetap memperhatikan kenyamanan bagi para pengemudinya. Hal ini dijawab Toyota dengan merancang letak roda berada jauh di depan. Konstruksi ini membuat bantingan truk nyaman dibandingkan dengan truk COE (cab over engine).

Dalam iklannya, sebagaimana mobilretroklasik.com temukan di media lama, Toyota sesumbar melalui Truck Toyota segala permasalahan pengangkutan akan terselesaikan. Selain kuat mesinnya, truk ini juga dirancang memiliki konstruksi kuat dengan chasis dari baja bertulang. Per penahan bantingan pun cukup tangguh dengan lebar mencapai 80 mm.

“Anda akan menemukan djawaban segala matjam persoalan pengangkutan pada Toyota. Inilah serangkaian kendaraan Truck Toyota untuk memenuhi setiap kebutuhan chusus Anda. Achirnja kini mengundjungi Anda dengan kekuatan jang lebih unggul, konstruksi jang lebih kuat dan dalam bentuk jang mendjamin kepuasan tiap pengemudija. Truck Toyota termasjur didunia karena reputasi chasisnja jang terbuat dari badja bertulang jang kekar dan kokoh. Per penahan bantingan kuat selebar 80mm adalah djaminan pelembut gontjangan pada pengemudi dan muatan jang dibawanja,” demikian penggalan redaksi iklan Toyota Buaya kala itu dengan ejaan lama.

Dalam iklan tersebut Toyota juga mengklaim A-Series memiliki sistem penerangan yang mumpuni. Kedua lampu depannya mampu menyorot secara horizontal, sehingga tampak lebih terang.  “Dan ditambah pula kedua lampu depannja jang menjorot setjara horizontal untuk penerangan jang terang benderang,” begitu lanjut redaksi iklan Toyota Buaya kala itu.

Kini, berlalu dari zaman keemasannya, Toyota Buaya tak lagi menjadi primadona. Namun, namanya tetap melegenda dalam sejarah moda angkutan di Indonesia, khususnya truk. Keberadaannya pun kini sangat  jarang, kalaupun ada biasanya dijumpai di pinggiran kota.

Toyota Buaya biasanya masih digunakan untuk mengangkut bahan-bahan galian.  Meski sudah cukup tua, tetapi Toyota Buaya masih sanggup melibas medan sulit sembari ‘menyunggi’ beban yang tak sedikit. Bravo Toyota Buaya! (y)