Menapaki Jejak Panjang Eksistensi Mobil Datsun di Indonesia

Meski beberapa tahun belakangan ini mobil Datsun sedang naik daun, nyatanya merek yang satu ini bukan pemain baru dalam pasar otomotif. Menariknya, masih banyak diantara para calon konsumen yang tidak mengetahui bahwasanya Datsun sudah keluar terlebih dahulu dibandingkan Nissan. Jelas saja anggapan ini akan langsung ditepis oleh banyak pihak, terutama orang-orang dari kalangan pecinta mobil retro. Mereka tahu benar bahwa mobil ini sempat meramaikan suasana jalanan Tanah Air pada kisaran tahun 70 dan 80-an.

Pada waktu tersebut, Datsun tak hanya dikenal cocok untuk digunakan sebagai mobil sehari-hari, tetapi juga langganan dipakai untuk keperluan niaga, hingga balap dan reli. Faktanya merek ini diperkenalkan pada tahun 1914 dengan nama DAT-Go yang bermakna “mobil DAT”. Secara usia, terhitung sudah genap satu abad lebih Datsun menjejakan eksistensinya di dalam ranah merek untuk kendaraan roda empat.

Dalam bahasa Jepang, DAT sendiri memiliki arti “secepat sambaran kilat”. Di samping pemaknaannya yang berusaha mewakilkan kelebihan performa dari unit mobil  yang dijualnya, nama DAT juga merupakan akronim dari nama para pendirinya, yakni Den, Aoyama, dan Takeuchi.

Disebabkan penjualannya juga diharapkan mampu merambah ke skala internasional, nama DAT juga kemudian diakronimkan sebagai ke dalam singkatan bahasa inggris, yaitu Durable (awet), Attractive (menarik), dan Trustworthy (terpercaya). Namun begitu, saat ini pemaknaan DAT sendiri lebih dikenal sebagai Dream, Access, dan Trust.

Datsun terus bergulir hingga akhirnya pada tahun 1933, Yoshisuke Aikawa yang merupakan pendiri Nissan kemudian mengambil alih kepemilikan saham Datsun. Berangkat dari visi “mobilitas untuk semua” pria kelahiran 6 November 1880 tersebut berencana untuk mencetak jenis mobil dengan karakter yang lebih fleksibel, ekonomis, serta berbobot ringan.

Saat itu, Aikawa membidik anak muda sebagai pangsa pasar utamanya. Nama “son of DAT” kemudian muncul sebagai kandidat, menandai akan sebuah kemunculan terobosan baru. Lama kelamaan nama “son of DAT” berubah menjadi Datsun yang masih setia dipakai hingga saat ini.

Meski pernah menjadi salah satu mobil  ngetop pada beberap era, hal tersebut tak dapat menghentikannya dari masa vakum produksinya. Namun pada tahun 2012, Carlos Ghosn yang merupakan CEO dari renault-nissan membuat kejutan dengan menghidupkan Datsun kembali dari tidur panjangnya.

Tak pelak, kabar tersebut telah membuat nama Indonesia terbawa-bawa ke dalamnya. Sebab Indonesia sendiri merupakan salah satu negara yang diyakini sebagai ladang pertumbuhan pasar yang sangat tinggi untuk berbagai merek otomotif, terutama buatan Jepang.

Di Indonesia, Datsun sendiri kini menjadi salah satu perusahaan otomotif yang paling banyak memproduksi mobil di segmen Low Cost Green Car (LCGC). Penjualannya sendiri berhasil menyaingi sejumlah mobil merek ternama dari negeri asalnya, yakni Toyota, Daihatsu, Honda, dan Suzuki.  

Berbagai komunitas juga banyak terbentuk di berbagai daerah untuk penyuka mobil Datsun dari berbagai tipe dan daerah. Beberapa komunitas yang paling terkenal diantaranya adalah Komunitas Datsun Go dan Go+ Indonesia (KDGI), Old Datsun Indonesia (ODI), dan Datsun Go+ Club Indonesia (DGCI). Riser merupakan julukan terkenal yang disematkan kepada mereka yang menyukai produk-produk mobil buatan Datsun.

Sejumlah komunitas tersebut juga tak jarang kerap mengikuti sejumlah penyelenggaraan event yang terkait dengan Datsun, seperti Datsun Rising Day yang digelar di Yogyakarta pada 2017 lalu. Dengan ketangguhan performa dan karakter yang dimilikinya, tak heran jika mobil-mobil produksi Datsun dari berbagai era tak pernah kehilangan penggemarnya.