Loading...
en

BMW Motorrad R25, Produk ‘Revisi’ Gara-gara Kalahnya NAZI

Dunia industri dan politik bak dua keping mata uang yang tak terpisahkan. Keterkaitan antara satu sektor dengan lainnya begitu erat. Contoh ini bisa dilihat di Indonesia, di mana cikal bakal motor nasional SMI Expressa yang dikembangkan di akhir 1990an terpaksa hanya menjadi cerita, karena gagal melenggang akibat kisruh politik 1997/1998 dan krisis moneter. Demikian halnya dengan BMW motorrad R25 yang merupakan produk ‘revisi’ akibat kalahnya NAZI Jerman dalam Perang Dunia ke-2.

Kekalahan NAZI ini membuat BMW yang sejatinya merupakan pabrikan otomotif asli Jerman yang sudah berdiri sejak awal 1900-an, bahkan dilarang untuk memproduksi kendaraan, kecuali mendapatkan izin dari pihak Sekutu. BMW pun akhirnya meminta izin kepada Amerika Serikat,  dan pada 1947 bisa memproduksi kembali motornya.

Izin dikantongi, tetapi nyatanya pabrik BMW yang ada di Munich sebelumnya telah hancur dibom. Praktis BMW harus memindahkan perlatannya, blueprint rancangan dan sebagainya ke pabrik BMW di Eisenach (Jerman timur) yang dikuasai oleh Uni Soviet. Kesialan dimulai dari sini, sebagai negara komunis Uni Soviet tak mau mengembalikan pabrik dan peralatan milik BMW dengan alasan perusahaan di bawah kekuasaan negara. Wal hasil, BMW pun harus memulai produksi dari nol lagi.

Hal inilah yang kemudian mendasari kelahiran BMW Motorrad R25 sebagai produk revisi. Produk ini dibuat dengan mencontek seri sebelumnya, R23 yang dibuat sebelum perang dan kemudian dibuat menjadi R24. Nah, R24 ini kemudian direvisi kembali hingga menjadi R25 pada 16 Febuari 1949.

Mesin motor ini menggunakan mesin 4 tak 1 silinder berpendingin udara yang dipasang vertikal dengan konfigurasi OHV 2 valve. Mengusung kapasitas 250cc, motor ini mampu menghasilkan tenaga 12Hp pada 5600Rpm. Untuk menyetor tenaganya, motor ini dilengkapi dengan transmisi manual 4 percepatan. Keunikan dari BMW Motorrad R25 adalah roda belakang digerakkan dengan gardan.

Debut perdana BMW R25 sendiri dimulai pada 1950 dengan nama BMW R25/0. Motor ini memiliki per jok vertikal dan suspensi depan upside-down tanpa peredam hidrolik. Suspensi plunger yang diusungnya memiliki penutup atas dengan  model knop di belakang. Motor ini memiliki tangki yang kecil dan di bagian atas dilengkapi laci toolbok. Variannya hanya muncul setahun saja, karena pada 1951 hingga 1953, BMW kemudian menghadirkan versi revisi dengan nama BMW R25/2 yang dilengkapi dengan per jok horizontal, suspensi teleskopik di depan dan suspensi belakang.

Kemudian, pada Oktober 1953 sampai 1955,  BMW kembali melenggangkan versi terbaru R25 dengan nama R25/3. Dibandingkan seri sebelumnya, seri ini memiliki suspensi dan mesin lebih baik serta bertenaga. Jika sebelumnya laci toolbox di atas, kini diletakkan di samping, karena tangki bensinnya lebih besar.

BMW R25 sendiri tidak hanya hadir sebagai motor roda 2, tetapi ada juga varian sespan atau kereta samping. Varian ini memiliki perbedaan dengan model roda dua pada mesin dan transmisinya. Sebagai sidecar BMW R25 dirancang dengan rasio gardan khusus dan bobotnya juga lebih besar, hinga 450kg.

Penempatan sespan pun berbeda pada varian R25, untuk R25/0 dan R25/2, bonggol sespan diletakkan di sisi kanan, sedangkan pada R25/3 ada varian yang meletakkan bonggol disebelah kiri. Hal yang unik dari sespan ini adalah posisinya yang sengaja dibuat miring dan dengan sudut yang berlawanan. Tujuannya adalah agar tercipta keseimbangan arah saat terjadi saling melawan arah laju.

Kini, BMWR25 jarang dijumpai dijalanan, kecuali lebih banyak terpajang di garansi-garansi para pecinta motor klasik. Selain karena kurang bertenaga, motor ini pun berat, sehingga kurang gesit untuk melibas medan jalanan, terlebih di tengah kemacetan.

Di tag dibawah