Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia

Tampilan Mobil Klasik Semakin Menawan Ketika Jadi 'Kanvas' Lukisan

Lukisan adalah sebuah karya seni yang pembuatannya dilakukan dengan cara memulaskan cat menggunkaan kuas, pisau palet dan lain sebagainya. Cat yang digunakan terdiri dari berbagai warna dan gradasi, dengan komposisi dan kedalaman tertentu yang berasal dari pelarut, pengikat atau pengencernya.

Sedangkan orang yang menciptakan lukisan disebut sebagai pelukis. Istilah yang pernah populer sebagai padanan kata ini adalah ahli gambar. Seorang pelukis dituntut untuk mampu memadukan berbagai macam warna dengan perasaan yang mendalam, memiliki imajinasi yang tinggi, kejelian, serta ketelitian untuk dapat menciptakan lukisan yang mempesona dan memiliki nilai seni yang tinggi.

Berbicara mengenai pelukis, ternyata tidak sedikit nama dari seniman Indonesia yang karya lukisnya dipuji banyak orang, dan terkenal di berbagai penjuru dunia. Salah satunya adalah Nasirun, yang lahir di Cilacap, Jawa Tengah, 1 Oktober 1965. Karyanya tergolong unik karena menggunakan elemen kebudayaan Jawa.

Walaupun sudah dapat digolongkan sebagai selebriti, namun Nasirun memilih untuk tetap tinggal dan menetap di sebuah kota kecil bernama Wates, yang masuk dalam wilayah provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sama dengan karyanya, sejarah hidupnya juga unik. Ternyata tidak ada darah seni yang mengalir dari keluarganya yang berprofesi sebagai pekerja dan petani daerah pesisir selatan Jawa. Ketertarikannya pada dunia seni  berawal dari kesukaannya pada wayang kulit. Bukan hanya dari sisi cerita dan legendanya, tetapi juga karena bentuk, ornamen, dan warnanya.

Bakat seni Nasirun memang luar biasa, pada saat masih sekolah saja sudah meraih banyak penghargaan antara lain:  Juara I dan Juara II Pekan Olahraga dan Seni (PORSENI) se-Keresidenan Banyumas, Juara II Lomba Kaligrafi dan Lomba Melukis Promosi Pariwisata Kabupaten Cilacap,

Selesai menamatkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama, Nasirun melanjutkan pendidikan di Sekolah Seni Rupa Yogyakarta dan lulus pada 1983, lalu ia melanjutkan pendidikan di Jurusan Seni Lukis, Fakultas Seni Rupa di Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada 1987 dan lulus pada 1994.

Di bangku kuliah pun Nasirun pun terus mencetak prestasi seperti: penghargaan pada Lomba Melukis Celengan dalam rangka Dies Natalis Universitas Gajah Mada, Sketsa dan Seni Lukis Terbaik Institut Seni Indonesia Yogyakarta, McDonald's Award pada Lustrum Institut Seni Indonesia Yogyakarta ke-10, dan Philip Morris Award 1997.

Bukan itu saja, sejak masih berstatus mahasiswa Nasirun sudah beberapa kali melakukan pameran. Mulai dari Pameran tunggal yang diselenggarakan di: Mirota Kampus Yogyakarta dan Cafe Solo, Bank Bali di Yogyakarta (1993), Ngono Yo Ngono, Mung Ojo Ngono, Galeri Nasional Indonesia di Jakarta (1999), Nadi Gallery di Jakarta (2002) dan di Sangkring Art Space, Yogyakarta dengan tema Salam Bekti pada 2009 untuk peringatan dan mengenang 1000 hari meninggal ibundanya.

Juga berperan serta pada pameran-pameran kolaborasi antara lain; Pameran Summit Event Bali Biennale (2005), Pameran Bersama Foto, Grafis, Lukisan People Need The Lord di Jakarta (2006), Biennale Jogja IX: Neo-Nation (2007), Un[real] Galeri Nasional Indonesia di Jakarta (2009), dan Commom Sense Galeri Nasional Indonesia di Jakarta (2010).[1]

Pada 2015 lalu, Nasirun diundang oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dalam program yang bertajuk Belajar Bersama Maestro. Dalam program tersebut, Nasirun memberikan pengalaman dan bimbingannya kepada anak-anak muda yang tertarik pada kesenian, hal ini dikarenakan ia adalah salah satu maestro seni lukis di Indonesia.

Nasirun juga meraih tiga piagam penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia atas tiga karya seninya yang bertajuk "RUN: Embracing Diversity" dan dipamerkan di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, pada Kamis (2/6/2016).

Manajer eksekutif Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) Sri Widati mengatakan jika karya-karya Nasirun dicatat sebagai rekor yang ke 7.476, 7.477, dan 7.478, karena telah memenuhi prinsip pemecahan rekor MURI, yaitu unik dan langka.

Salah satunya adalah lukisan yang "kanvas"nya menggunakan 24 mobil, di antaranya berjenis Mercy, Toyota Cecilia, Fiat, serta VW Caravelle. Mobil-mobil tersebut dimiliki oleh Agung Tobing, rekan dari Nasirun, dan diselesaikan selama 2 tahun. Hasilnya memang luar biasa, berbagai mobil klasik tampil lebih memikat ketika tubuhnya dilukis oleh sang "maestro".

Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia