Perjalanan Beetle, VW Kodok Legendaris yang Dipelopori oleh Hitler

Penggemar otomotif mana yang belum pernah mendengar pesona dari VW Beetle alias VW Kodok. Bentuknya yang ikonik mampu memikat begitu banyak orang. Dibandingkan model kendaraan kebanyakan, mobil ini justru memiliki keunikan karena letak mesinnya yang berada di belakang. Sementara bagian depannya menjadi lahan bagasi tempat ban serep berada. Desainnya juga tak kalah menarik karena mengusung model dua pintu layaknya sebuah model coupe.

Di Indonesia dan Malaysia, mobil ini memang lebih akrab dengan sebutan VW Kodok. Lain halnya dengan negara asalnya Jerman yang menjulukinya dengan Kafer. Mobil ini juga memiliki julukan populernya masing-masing di berbagai negara lainnya, seperti Bug di Amerika, Fusca (Bazil), Pendong (Filipina), dan Kabuto-mushi (Jepang). Diperkirakan mobil ini mampu memuat hingga 2 orang penumpang dewasa dan 3 anak kecil.

Sejarah mobil ini tak bisa dipisahkan dari sosok fenomenal Adolf Hitler yang pada masanya begitu menginginkan “mobil rakyat” atau Volkswagen (people’s car). Sampai pada akhirnya, purwarupanya mulai dikembangkan di tahun 30-an oleh seorang insinyur bernama Ferdinand Porsche dengan menggendong mesin berkapasitas 700 cc empat silinder yang mampu memuntahkan 22,5 tenaga kuda.

Tanpa menghiraukan segi estetika, bentuknya yang oval dirancang untuk mengedepankan aspek durabilitas. Dilabeli produksi Type 1, Porsche berhasil menciptakan VW Kodok pertama pada tahun 1938. Berbasis di Wolfsburg Jerman, si Kumbang ini berhasil diproduksi sebanyak 30 unit di bawah kekuasaan Hitler. Perjalanan produksinya pun sempat terhenti saat Perang Dunia II hingga mulai berdenyut kembali pada 1946.

Versi convertible atau atap terbuka mulai dimunculkan pada tahun 1950-1980. Hal ini sekaligus menandai cetakan produksinya yang mencapai 330.218 unit. Popularitas VW Beetle semakin menanjak tatkala pada tahun 1968 perusahaan perfilman Disney dari Amerika menayangkan film The Love Bug yang membuatnya dikenal dengan julukan Herbie. Film ini juga berdampak pada penggunaannya yang naik kelas untuk dibawa lintas balap mobil seperti drag race dan reli.

Pada tahun 1972, puncak penjualan VW Kodok yang menyentuh angka 15.007.034 disusul enam tahun kemudian menjadi 16.255.550. Kesuksesan ini terus berlanjut hingga Volkswagen mengembangkan produksi Beetle generasi kedua pada tahun 2003 dan generasi ketiganya pada 2011. Perubahan generasi membuatnya mendapatkan sejumlah penambahan fitur yang semakin canggih serta variasi kapasitas mesin dengan cc yang lebih besar. Penambahan-penambahan tersebut dilakukan tanpa mengusik desainnya yang sudah begitu khas.

Siapa sangka mobil yang tadinya terinspirasi oleh seorang Yahudi bernama Josef Ganz ini akan menjadi kendaraan ikonik selama tiga generasi. Apabila ditanya, jumlah penggemar mobil tipe ini bisa dibilang masih sangat banyak terutama untuk keluaran generasi pertama. Kini penggunaan Beetle di jalanan terbilang cenderung menurun disebabkan karena kendaraan ini telah menjadi barang investasi. Mobil kodok ini bahkan disebut-sebut semakin memiliki nilai jual tinggi saat usianya semakin bertambah.

Menurut Gatot Purnama yang merupakan salah seorang anggota komunitas Indonesia Pre67 Beetle, salah satu jenis VW Kodok  langka paling dicari adalah yang memiliki jenis kaca belakang split dan oval, sebagaimana dikutip dari CNNIndonesia Saat ini harga tertinggi yang dibanderol untuk mobil produksi tahun 1950-an dengan varian 1.200 bisa mencapai Rp 1,5 miliar.

Namun harga tersebut disertai dengan syarat orisinalitasnya yang masih harus terjaga. Di sisi lain untuk tipe 1200, 1300 dan 1303 pada rentang produksi 1958 hingga 1965 bisa dipinang dengan merogoh kocek sekitar 15 hingga 20 juta rupiah tergantung pada kondisinya.

Beralih ke topik restorasi, kocek yang dihabiskan untuk mendadaninya terbilang relatif tak murah. Besarnya budget yang dihabiskan tergantung pada kebutuhan dari masing-masing pemiliknya. Terlebih lagi jika harus merakitnya dimulai dari ‘bahan’ atau istilah lain untuk bangkai mobil di kalangan penggemar otomotif.

Untuk merawat kendaraan pacu yang satu ini boleh dibilang susah-susah gampang. Hal terpenting dalam perawatannya adalah modifikasi atau paham pakem perawatannya. Meskipun menggunakan komponen yang orisinil sekali pun, kehandalan mekanik tetap menjadi hal yang utama. Hal ini disebabkan karena mesin VW Kodok cukup rewel dan berisik jika keluar pakemnya. Untuk masalah orisinalitas onderdilnya, perlu diperhatikan bahwa produk asli kebanyakan biasanya berasal dari Jerman dan Brazil.

Para penggemarnya pasti sudah hafal betul dengan cap bertuliskan ‘Made in Mexico’ yang merupakan produksi tiruannya. Akan tetapi, kabar mengejutkan datang dari pihak pabrikan Volkswagen. Disebutkan bahwa kendaraan yang sudah bertahan selama kurang lebih tujuh dekade tersebut akan disuntik mati pada tahun 2019. Hal ini ditengarai karena skandal dieselgate yang menimpa mereka, yaitu berkenaan dengan manipulasi standar emisi diesel di Amerika Serikat.

Pihak Volkswagen sendiri menyatakan penghentian tersebut dikarenakan mereka akan berfokus untuk memproduksi kendaraan listrik yang ramah lingkungan. Sukses memikat tua dan muda, keberadaannya kini begitu banyak diburu oleh para penggemar mobil klasik. Di Indonesia sendiri, komunitas pecinta VW Kodok bahkan tersebar di berbagai daerah. Selain itu, mobil ini juga sudah berkali-kali nampang di berbagai kontes modifikasi.

Dengan popularitasnya yang sudah mendunia, terselip harapan bahwa mobil ini kelak akan dibangkitkan kembali dari kematiannya. Namun begitu saat ini pengemarnya harus siap melambaikan tangan untuk rilisan edisi terakhirnya.