Loading...

Mobil Peugeot J7 dan Jasanya Sebagai Alat Penyebarluasan Informasi di Indonesia

Dibuat di Chausson, Perancis, mobil Peugeot J7 merupakan generasi penerus dari D4 yang diproduksi dalam kurun waktu 15 tahun, tepatnya sepanjang tahun 1965 – 1980 dengan jumlah produksi sebanyak 336.220 unit kendaraan, sebelum akhirnya dihentikan dan diganti dengan Peugeot J9. Mobil kuno  jenis komersial ringan  dengan penggerak roda depan kecil ini dibuat dalam beberapa versi yaitu minibus, panel van dan pick up.

Hal ini menjadi alasan mobil tersebut dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, mulai dari mobil penumpang, mobil pengangkut barang, taksi, ambulance sampai dengan mobil untuk keperluan broadcasting di lapangan sebagaimana yang dilakukan TVRI (Televisi Republik Indonesia) dan RRI (Radio Republik Indonesia) pada awal tahun 1970 sampai dengan tahun 1978.

Karena mobil Peugeot jenis ini tidak dijual secara resmi di Indonesia, satu-satunya versi Peugeot J7 yang ada hanyalah jenis van varian 1.400 kg. Sementara untuk jenis van, J7 memiliki 2 varian yaitu 1.400 kg dan 1.800 kg. Penamaan varian tersebut didasarkan pada kemampuan daya angkutnya.

Selama masa produksi, mesin yang ditanamkan dalam mobil ini terdiri atas beberapa jenis, yaitu mesin dengan bahan bakar bensin berkapasitas 1500cc, 1600cc  dan 1800cc serta mesin diesel berkapasitas 2000cc, 2100cc dan 2200cc.

Untuk mesin yang digunakan Peugeot J7 yang masuk ke Indonesia adalah mesin yang sama dengan yang dipakai Peugeot 404 yang menggunakan bahan bakar bensin dengan kapasitas 1618cc.

Karena seluruh varian J7 merupakan FWD atau menggunakan penggerak roda depan, maka mesinnyapun ditempatkan secara melintang di bawah tempat duduk pengemudi dan penumpang dengan memakai transmisi manual 4 percepatan.

Masuknya mobil Peugeot J7 ke Indonesia didatangkan oleh Kementrian Penerangan yang saat itu dipimpin oleh (Alm) Letjend Ali Moertopo pada awal tahun 1970. Mobil dengan dimensi panjang 4.740 mm dan lebar 2.000 mm tersebut didatangkan dari Perancis sebanyak 110 unit untuk digunakan sebagai sarana broadcast saat TVRI dan RRI melakukan liputan langsung ke lapangan.

Sebanyak 110 unit J7 tersebut dibagikan ke seluruh provinsi yang ada (saat itu jumlah provinsi di Indonesia sebanyak 27 provinsi), dan untuk setiap provinsi memperoleh jatah 4 unit mobil, 2 unit diberikan kepada TVRI dan 2 unit untuk RRI.

Selama kurang lebih 8 tahun, Peugeot J7 membantu awak media TVRI dan RRI dalam melakukan liputan di lapangan dengan menempuh berbagai medan, mulai dari yang mudah untuk dilalui, seperti kawasan perkotaan sampai dengan medan yang ekstrim.

Peran besar yang diberikan mobil Peugeot J7 dalam penyebarluasan informasi di Indonesia tersebut, sekitar tahun 1978 akhirnya diganti oleh Mercedes Benz G-Wagen W460 dengan sejumlah alasan. Beberapa diantaranya adalah ukuran kabin J7 yang dinilai kurang besar untuk dapat membawa kamera dan peralatan broadcasting lainnya, mesinnya yang berpenggerak roda depan dirasa kurang tangguh untuk menempuh medan yang sulit serta faktor umur yang membuat J7 kerap mogok saat dipakai di lapangan.

Sebagai outside broadcasting van pengganti, G-Wagen W460 memang memiliki sejumlah kelebihan jika dibandingkan dengan Peugeot J7. Beberapa kelebihan tersebut diantaranya adalah ukuran kabinnya yang lebih besar dan memiliki daya angkut yang lebih banyak, memiliki mesin yang lebih tangguh dan tentunya tidak gampang mogok karena umurnya memang lebih muda.

Meski tugasnya telah digantikan oleh G-Wagen, hingga beberapa tahun kemudian J7 masih digunakan untuk melakukan liputan di lapangan, karena mobil tersebut dilempar ke stasiun-stasiun cabang RRI yang ada  di wilayah-wilayah kabupaten.

Karena mobil Peugeot J7 masuk ke Indonesia tanpa membayar bea masuk, maka plat nomor dari mobil ini berakhiran huruf X yang artinya kepemilikan dari mobil klasik tersebut tidak bisa dipindahtangankan.