Menyoroti Perbedaan Mobil Tua, Antik, Vintage, Retro dan Klasik

Anda mungkin sering mendengar julukan tertentu yang disematkan terhadap kendaraan roda empat, terutama yang usia produksinya terbilang sudah tidak muda lagi. Beberapa diantaranya adalah mobil antik, vintage, retro dan klasik. Meskipun keempatnya bisa dibilang mobil tua, tetapi masing-masing memiliki definisi perbedaannya yang tak dapat disamakan satu sama lain.

Dilansir dari KOMPAS.com (09/03/2018), menurut Em Samudera selaku Sekretaris Jenderal Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia (PPMKI) menyebutkan letak perbedaannya berada pada fase tahun kemunculannya. Untuk kendaraan antik misalnya, usianya minimal harus 100 tahun dari masa sekarang. Apabila menyoroti kendaraan antik yang dimaksud pada masa sekarang, mobil tersebut minimal harus diproduksi sekitar tahun 1919 dan tidak boleh lebih.

Namun begitu, istilah antik ini bisa dibilang sebagai tolak ukur baku yang hanya dipergunakan oleh orang Indonesia saja. Sedangkan di luar negeri, penggunaan istilah dan usia produksinya bisa saja berbeda dari yang dipahami oleh komunitas pecinta mobil klasik di Tanah Air. Sebagai contoh adalah istilah historical vehicles. Terminologi tersebut digunakan oleh perkumpulan komunitas Classic Club Car di Amerika untuk mobil yang diproduksi setelah 1922.

Kemudian muncul juga istilah vintage yang terbagi dalam dua fase, yaitu sebelum dan setelah Perang Dunia II. Sebelum Perang Dunia II, usia kendaraan vintage yang diproduksi yaitu berkisar antara tahun 1919 hingga 1930, sementara setelahnya adalah sekitar 1946 hingga 1952. Meski begitu, nyatanya mobil lama tetap bisa disebut sebagai vintage jika usianya minimal sudah mencapai 40 tahun.

Beralih dari masa vintage, produksi otomotif mulai memasuki fase retro. Apabila mengacu pada tahun produksinya, mobil jenis retro pada mulanya dimulai dari era mobil tahun 77-an hingga 86-an. Akan tetapi, kini retro bisa disematkan kepada kendaraan yang memiliki usia minimal 20 tahun dari masa sekarang, yaitu pada rentang 1980 hingga 1990.

Menariknya, terdapat anggapan keliru mengenai kesamaan mobil tua dengan mobil klasik. Sebagai contoh, mobil tua berharga mahal selalu diidentikan dengan mobil klasik. Padahal menurut Em Samudera faktor tersebut tidak menjadikan sebuah kendaraan bisa disebut klasik begitu saja. Latar belakang produksi merupakan indikasi penting untuk menentukan klasik tidaknya sebuah kendaraan.

Menurut Sekjen dari PPMKI tersebut, kata “klasik” sendiri sebenarnya lebih memiliki arti seperti “bernilai”. Hal ini bisa dilihat apakah pada masanya mobil tersebut berstatus kendaraan mewah atau diproduksi secara terbatas.

Apabila mobil tersebut pada masanya memang diproduksi dengan jumlah banyak karena diperuntukan sebagai mobil harian, maka mobil tersebut tak bisa disebut sebagai mobil klasik. Sebaliknya mobil tersebut hanya bisa disebut sebagai mobil tua atau sebagai vintage dan retro jika menilik dari tahun produksinya. Oleh karenanya, semua mobil klasik sudah pasti termasuk dalam mobil tua, sementara tidak semua mobil tua termasuk dalam mobil klasik.

Samudera mengambil contoh salah satu ciri mobil klasik yang banyak beredar, yaitu jenis sedan coupe yang hanya memiliki dua pintu. Sementara itu, terdapat juga mobil yang memang diproduksi untuk pemakaian tertentu, seperti Cadillac Fleetwood 75 Limousine Presidential Series yang merupakan mobil dinas terakhir Presiden Indonesia pertama Ir. Soekarno. Mobil bersejarah tersebut bahkan kini berada di tangan salah seorang anggota PPMKI sebagai koleksi pribadi.

Menilik dari salah satu faktor statusnya yang berasal dari kendaraan mewah, nyatanya penyematan tersebut tidak selalu berlaku terhadap semua mobil prestisius termasuk beberapa jenis Mercedes Benz yang dikenal begitu eksklusif. Samudera bahkan mengambil contoh Mercedes Benz 200 desain empat pintu miliknya. Pada era 70-an, mobilnya tersebut merupakan salah satu tipe yang diproduksi massal untuk kendaraan harian.

Oleh karenanya meskipun cukup mahal dan bergengsi di masanya, Mercedes Benz miliknya tidak bisa disebut klasik. Akan tetapi, lain halnya jika mobil yang dimilikinya adalah jenis coupe, maka dapat dipastikan status mobil tersebut akan menjadi klasik di masa kini.

Namun begitu, untuk sebab tertentu sebuah mobil harian bisa naik kelas menjadi mobil klasik. Ia menyebutkan penyebabnya bisa jadi ditengarai karena populasinya yang kian langka. Ia mencontohkan Morris Mini besutan Mini Cooper, VW Beetle yang diproduksi sebelum tahun 1950, serta VW Combi dari generasi pertama.

Meskipun ketiganya masih begitu mudah ditemui pada beberapa waktu lalu, tetapi kini ketiganya naik kelas menjadi kendaraan klasik. Keberadaannya yang kian langka tidak terlepas dari banyak diantaranya yang berakhir menjadi besi tua. Selain itu, kebetulan kendaraan tersebut masih memiliki tempat di hati penggemarnya. Oleh karena itu, keberadaan ketiganya kini menjadi salah satu daftar buruan koleksi mobil klasik.

Bukan rahasia lagi untuk mendapatkan mobil klasik seorang kolektor harus bersiap dengan kocek yang terbilang tidak sedikit. Lain halnya dengan jenis retro yang beberapa diantaranya kebanyakan masih bisa dipinang dengan harga terjangkau. Selain itu, sparepart jenis retro biasanya masih cukup mudah ditemukan. Namun untuk jenis antik dan vintage, untuk menemukan jenis suku cadangnya terutama yang orisinil terbilang untung-untungan. Tak jarang banyak juga diantaranya yang melakukan substitusi dengan suku cadang dari tipe lain atau di luar pabrikannya.