Mengulik Perbedaan Toyota Corona 2000 Tahun 1980 dan Corona TT

Mengulas salah satu sedan mewah medium yang muncul pada zaman kepresidenan Soeharto, nama Toyota Corona 2000 tahun 1980 memang tak bisa diabaikan dari jajaran sedan berkelas pada zamannya. Kendaraan ini menawarkan kapasitas mesin yang lebih besar, serta desain bodi yang lebih bongsor dibandingkan keluaran Toyota lainnya.

Oleh sebab fisiknya yang kurang ramping, mobil ini kurang populer di kalangan kawula muda yang cenderung lebih menyukai model sedan kompak. Mobil ini justru kerap diidentikan dengan mobil bapak-bapak untuk bepergian ke kantor.

Toyota Corona 2000 tahun 1980 merupakan generasi keenam dari Corona yang memiliki tampilan memikat. Penampakannya sangat khas berupa ciri utama headlamp berbentuk kotak sebanyak empat buah. Pada masanya, penggunannya terbilang sangat jarang untuk pemakaian sehari-hari.

Pada jajaran mobil sedan mewah medium tahun 80-an, mobil ini disandingkan dengan para kompetitor lainnya seperti Honda Accord, BMW E12 5-Series, Mitsubishi Gallant Sigma, Mercy Tiger W123, dan Mazda Capella Classic.

Mobil berkode RT132 ini pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1978, yang mana T sendiri merujuk pada tipe Corona, sementara 132 merupakan seri dari bodinya. Kode T132 sendiri memang masih dipertahankan karena masih satu generasi dengan Corona RT.

Toyota Corona 2000 tahun 1980 mengusung mesin 18R dengan konfigurasi 4 Silinder SOHC 8 katup. Di Tanah Air, mobil ini hadir dengan tampilan 4 pintu. Posisinya sendiri ditempatkan antara Toyota Corolla KE30 dan Toyota Crown.

Penanaman 18R SOHC dengan kapasitas 1968 cc pada dapur pacunya, rupanya mengusung platform yang serupa dengan Toyota Celica 2000. Namun begitu, kendaraan yang populer pada ajang rally WRC tersebut memiliki sedikit perbedaan berupa 18R-C.

Pada tahun 1981, roda empat yang satu ini mendapatkan sentuhan facelift, sehingga terlahir menjadi Corona TT. Penamaan tersebut merujuk pada seri mesin T yang memiliki kapasitas 1.800cc. Versi facelift sendiri memberikan beberapa perubahan pada berbagai sektor termasuk tampilan eksterior dan interiornya. Penjualannya sendiri bertahan hingga 1982. Sampai pada akhirnya digantikan dengan Toyota Corona GL yang merupakan mobil dengan penggerak roda depan pertama dari keluarga Corona.

Toyota Corona 2000 tahun 1980 memiliki tampilan depan logo khas matahari yang terpampang di bagian tengah grill. Bagian bumpernya dan lisnya dilapisi krom membuat tampilannya terkesan mewah. Pada bagian kanan dan kirinya dipasangi karet-karet yang berfungsi melindungi benturan langsung terhadap bagian bumper. Selain itu, model 2000 memiliki spion tanduk yang menjadi salah satu ciri khas kendaraan retro.

Sementara itu, garis-garis pada bagian grill Corona TT terlihat jauh lebih menonjol tanpa adanya logo matahari seperti yang terpampang di Corona 2000. Posisi spion yang tadinya diposisikan dekat di kap mesin, kini mundur ke bagian sisi kiri dan kanan pintu depan. Perbedaan-perbedaan lainnya dapat ditemukan pada siluet tampak samping, tampilan ekor, serta beberapa bagian lampunya.

Pada bagian interior, Corona 2000 memiliki tampilan kabin berwarna hitam, sementara TT didominasi warna cream yang memberi kesan lebih terang. Fitur yang disematkan keduanya terbilang sama, yaitu berupa AC dan pemutar kaset standar. Kendaraan Toyota yang satu ini tidak memiliki fitur elektrik canggih seperti, electric mirror, power steering, power window atau pun central lock. Hal tersebut tentunya bisa dipahami mengingat fitur-fitur tersebut tidak lumrah ditemukan pada kendaraan peralihan dari tahun 70 ke 80.

Corona generasi keenam ini juga memiliki desain kaki-kaki yang kuat didukung dengan bantingan suspensi yang lembut. Suku cadangnya pun sangat mudah untuk didapatkan. Desainnya terbilang sangat mirip dengan muscle car klasik dan harganya cukup terjangkau untuk pasaran mobil lama, yaitu berkisar antara 10 hingga 18 juta.

Dari segi kinerja dan performa mesinnya, Toyota Corona 2000 tahun 1980 yang dibenamkan kapasitas mesin 2000 cc mampu memuntahkan tenaga sebesar 105 Hp per 5.500 Rpm dengan torsi maksimal sebesar 162 Nm pada putaran 3.600 Rpm. Namun begitu, hal tersebut justru membuatnya diragukan begitu banyak orang soal keiritan bahan bakarnya.

Toyota kemudian memperkenalkan opsi mesin berkapasitas 1.800 cc melalui Corona TT yang juga tetap menyandang penyuplai bahan bakar karburator. Tenaganya pun terpangkas menjadi 75 Hp per 5.000 Rpm 95 Nm per 2.600 Rpm. Namun sayangnya, pemangkasan tersebut tak kunjung membuat konsumsi bahan bakarnya menjadi lebih irit. Hal tersebut disebabkan karena tenaga yang dihasilkan tidak sesuai dengan bobot bodi yang dimiliki keluarga Corona.

Menilik sejumlah kekurangannya, meminang mobil ini terbilang kurang menguntungkan karena harga jualnya terbilang sangat jatuh. Hal ini disebabkan karena bahan bakarnya yang cenderung boros membuat banyak orang enggan untuk memeliharanya.

Desain fitur kabinnya juga terbilang sangat biasa untuk ukuran sedan mewah medium. Ditambah referensi modifikasinya yang terbilang sangat minim, disertai beberapa part yang sudah mulai langka. Sayangnya, versi injeksi yang digadang-gadang lebih irit BBM justru tidak masuk ke Indonesia.

Dibalik sejumlah sisi kelebihan dan kekurangannya, Toyota Corona 2000 tahun 1980 dan TT sama-sama memiliki impresi yang cukup memukau. Diantaranya adalah pemasangan per keong yang memberikan rasa nyaman kepada penumpangnya. Meskipun kerap dicap boros, nyatanya para penggemar roda empat ini mengklaim bahwa keborosan yang ditimbulkan bisa diminimalisir dengan memainkan pedal gasnya.