Mengenal Profil Helmie Sarosa, Sosok Penggiat Otomotif Jadul

Nama Helmie Sarosa mungkin bukan nama yang asing di kalangan pecinta mobil klasik dan retro. Sosoknya sebagai penggiat otomotif keluaran lama hingga pelopor komunitas kerap kali membuat namanya bolak balik terpampang di laman-laman berita.

Akrab disapa Om Helmie atau lebih dikenal sebagai Helmie SRS, kegemarannya sudah dimulai sejak tahun 1974. Tepatnya sejak dirinya masih duduk di bangku SMA. Hobinya tersebut kian berlanjut hingga dirinya berkuliah di Bandung. Diawali dengan kerja keras yang dilakoninya saat masih menempuh pendidikan di Bandung, Helmie berhasil membeli beberapa unit motor untuk ditukar dengan VW Combi.

Bersamaan dengan sejumlah komunitas Volkswagen, beliau mulai mendirikan Volkswagen Club Bandung pada 6 Mei 1982. Sampai saat ini, pria tersebut masih terus melakoni hobinya. Hobinya tersebut bahkan telah membawanya ke dalam peruntungan besar. Berbeda dari kebanyakan orang yang berinvestasi melalui logam mulia atau properti, Helmie justru lebih suka membeli mobil keluaran lama. Apabila sudah kepincut, ia tak segan akan memboyongnya meski kondisi mesin dan bodinya sudah tidak prima lagi.

Keputusannya untuk berkecimpung di bisnis jual beli mobil langka baru dimulai pada 2007 lalu. Jauh sebelum itu, berbagai jenis usaha pernah digarapnya, dimulai dari membuka bengkel VW, jual beli tanah, hingga menjalankan retail swalayan. Pada November 2014, Helmie menyulap garasi rumahnya yang berlokasi di Jalan Pulo Permata Sari Raya Kav 8, Taman Galaxi, Bekasi, menjadi sebuah showroom dan sebuah Kedai Built Up.

Diperkirakan sekitar ratusan mobil sudah keluar masuk garasinya tersebut. Mobil yang terpampang di garasinya rata-rata merupakan keluaran 2005 ke bawah. Selain itu, ada satu kriteria wajib yang harus dimiliki, yaitu harus jenis built-up. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri mengingat kendaraan built-up biasanya dirakit dari negara asalnya. Oleh karenanya, kendaraan jenis ini memiliki standarisasi dan bentuk yang berbeda, karena disesuaikan dengan cuaca dan regulasi setempat.

Baginya terdapat tantangan tersendiri untuk meminang sejumlah mobil lawas built-up yang sudah mulai langka berkeliaran di jalanan. Sebagai penggagas Kedai Built Up, ia menyebutkan terdapat kelebihan dan kekurangan dalam mengoleksi jenis kendaraan keluaran lama. Disebabkan perawatannya yang terbilang tidak murah, perusahaan pembiayaan seperti leasing biasanya tidak akan berani untuk memfasilitasi. Oleh sebab itu, sejumlah surat kendaraan seperti BPKB akan tetap utuh di tangan pemiliknya.

Namun begitu, bukan berarti Helmie menganggap mobil-mobilnya seperti barang pusaka. Apabila ada orang yang memiliki ketertarikan terhadap koleksinya dan berani menawar dengan harga yang sesuai, maka Helmie tidak segan untuk melepasnya. Menariknya, ia melakukan transaksi penjualan tersebut hanya dengan melalui sosial media seperti Whatsapp, Facebook, dan Instagram.

Di Kedai Built Up miliknya, para pecinta mobil lama bisa nongkrong sambil berdiskusi satu sama lain. Tak ketinggalan, keseruannya bisa dibarengi sembari menyeruput kopi yang nikmat. Helmie juga aktif membagikan info seputar mobil lawas di semua sosial media miliknya.

Berbicara soal puluhan kendaraan roda empat yang memenuhi garasinya, banyak sekali yang penasaran bagaimana cara Helmie untuk merawat dan membersihkan keseluruhan kendaraan. Padahal seperti yang kita ketahui, merawat mobil lama bukanlah perkara yang mudah, terlebih lagi tak banyak bengkel khusus yang menyediakan jasa pemeliharaan mobil seperti itu.

Kenyataannya, semua perawatannya nyaris dikerjakan oleh Helmie sendiri. Bukan berarti pria tersebut takut rugi untuk mempekerjakan seorang asisten, melainkan baginya terdapat kenikmatan tersendiri saat berkutat seharian bersama kendaraan-kendaraan favoritnya. Dalam sehari, Helmie bahkan bisa mengurus 2 hingga 4 mobil. Sang istri pun kadang kala turun tangan untuk membantunya.

Pemilihan perawatannya pun dilakukan secara acak, dimana Helmie akan mengurus mobil yang kira-kira hendak dipakai dalam waktu terdekat. Kadang kala anaknya pun ikut ia libatkan. Ia akan memperkenankan anaknya untuk menggunakan salah satu mobilnya, sehingga otomatis mobil perlu dipanaskan. Setelah pemakaian sang anak pun akan bertanggungjawab untuk membersihkannya.

Untuk memudahkan perawatannya, Helmie kerap menamai satu persatu kendaraan kesayangannya tersebut. Nama yang diberikan tidak lah rumit, biasanya beliau akan menamai sesuai dengan warna mobilnya.

Untuk urusan perawatan maupun restorasi, biasanya Helmie akan memanggil kenalannya untuk membantunya. Kadang kala bersama temannya, ia akan mencari bengkel yang bisa mengerjakannya.

Mengintip kiat suksesnya dalam mengkoleksi sejumlah mobil, Helmie Sarosa sendiri memberikan beberapa tips kesabaran sebagai kunci utamanya. Kerap kali banyak orang yang terpaku dan terburu-buru untuk membeli sebuah mobil built-up, lantaran takut keburu terjual ke pihak lain. Padahal dari segi harga mungkin cukup jauh dari patokan standar yang seharusnya.

Menurutnya, pola pikir seperti itulah yang perlu dirubah. Ia lebih baik menunggu hingga mendapatkan harga yang sesuai. Namun jika mobil tersebut pada akhirnya tidak berhasil dimiliki, ia sangat yakin akan menemukan barang lainnya yang lebih bagus di lain waktu.

Helmie Sarosa sendiri hingga kini masih terus aktif menekuni kegemarannya ini. Tak jarang dirinya kerap diundang sebagai pembicara ke berbagai acara yang berhubungan dengan otomotif jadul. Antusiasmenya yang masih menggebu di usia yang tak lagi muda, menjadi inspirasi tersendiri bagi yang tua dan muda. (AS)