Sejarah Sirkuit Ancol Dari Jaya Antjol Race I Ke International E-Prix Circuit

Sentul bukanlah sirkuit pertama di Indonesia, melainkan sirkuit Ancol, yang dibangun sekitar tahun 1970. Sirkuit ini adalah  satu-satunya  dan merupakan kebanggaan bangsa Indonesia pada masa itu. Dimana balap mobil maupun motor merupakan hal yang baru pada saat itu. Sehingga banyak orang penasaran ingin melihatnya.

Pada saat pembangunan sirkuit ini, banyak sekali sponsor yang mengeluarkan dana yang tidak main–main pada kala itu. Seperti Astra dan PT Indocement, kedua perusahaan ini menyumbang Rp 30 juta kepada PT Jaya Ancol Sirkuit yang pada saat itu menjadi pengelola maupun yang membangun sirkuit.

Untuk menarik  pembalap asing agar mau bertarung di sirkuit Ancol, Ali Sadikin yang saat itu menjabat sebagai Gubernur DKI, menunjuk Tinton Soeprapto, pembalap yang memiliki segudang prestasi dan merupakan ayah dari 2 pembalap nasional yaitu Ananda Mikola serta Moreno Soeprapto, sebagai maskot pembalap.

Beberapa event pun mulai digelar yaitu Jaya Antjol Race I, pada bulan Oktober tahun 1969, dimana saat itu kondisi sirkuit hanyalah berupa jalanan perumahan biasa dengan tikungan yang patah-patah. Dan lebar sirkuit ini hanya 7 sampai 10,5 meter saja dengan panjang lintasan 3.590 meter.

Selanjutnya pada tahun 1970, diadakan Jaya Antjol Race II pada bulan Oktober. Pada acara kali ini, panjang sirkuit diubah menjadi 3.950 meter dan jumlah tikungannya ditambah 2 menjadi 12 tikungan.

Pada tahun 1971, sirkuit Ancol dipugar secara total Dengan biaya sekitar 400 juta rupiah. Dana tersebut digunakan untuk pengaspalan hotmix, dan fasilitas lainnya seperti:

  • Paddock sirkuit Ancol ini terdiri dari 3 ruangan yang masing-masing berukuran 150 m x 12 m, 75 m x 12 m dan 51 m x 5 m, sanggup menampung sekitar 100 mobil atau 150 motor balap termasuk perlengkapannya.
  • Pada bagian pit, terdapat ruangan yang mampu menampung 30 mobil balap atau 50 motor balap.Cukup memadai untuk 2 orang pit crew masing-masing pembalap.
  • Selain itu, ada juga tower kontrol yang terdiri atas 3 lantai dimana lantai teratas digunakan untuk score board dan TV juga tempat wartawan dan polisi ditempatkan.Lantai pertama bangunan tower ini digunakan sebagai ruangan race control, dokter dan bendera.Lantai kedua bangunan ini sendiri digunakan sebagai ruang pengecekan waktu dan kantor panitia perlombaan.

Layout sirkuit ini menjadi kurang lebih sama seperti sirkuit perkotaan dengan jalur lurus yang mendominasi dipadukan dengan tikungan patah. Hanya saja, karena pembangunan di Jakarta zaman '70-an dulu belum sepesat sekarang. Bayangkan saja daerah desa atau perumahan yang belum dibangun sehingga hanya berupa tanah kosong dengan ilalang serta beberapa pohon diberi jalanan aspal dan dipakai untuk balap. Sebegitu sederhananya sirkuit ini sampai-sampai paddock peserta balapan pun berada dibawah pohon.

Secara spesifikasi, sirkuit ini setelah mengalami renovasi 1971, berubah menjadi seperti bentuk huruf L macam sirkuit Salzburg (Austria) dan Lakeside (Australia) pada zamannya. Panjang lintasannya menjadi 4.470 m dengan lintasan lurus yang melalui restoran Duta Toradja sepanjang 1.070 m. Lebar jalannya pun juga ditambah menjadi 9 meter dan 12 meter dari yang sebelumnya direncanakan minimum 10 meter dan maksimum 18 meter setelah mempertimbangkan aspek keamanan.

Tidak heran kalau kemudian sirkuit ini menjadi salah satu yang terbaik di Asia pada waktu itu tepat di belakang sirkuit Fuji, Jepang.Tidak heran juga kalau kemudian ada banyak acara berskala internasional yang dihadirkan di sirkuit ini seperti misalnya Grand Prix Ancol, endurance 7 jam Ancol dan sebagainya.

Mobil-mobil yang berlaga di sirkuit ini juga sebenarnya tidak main-main juga. PT. Astra misalnya, pernah mengembangkan Toyota Starlet KP47 dan Toyota Corolla KE30 dengan Tom's Jepang khusus untuk spesifikasi sirkuit ini.

Sirkuit Ancol sendiri awalnya dikelola BPP Ancol, dan sempat dipegang oleh Herman Sarens Sudiro sedangkan untuk Tinton Soeprapto kebagian pada tahun 1983. Sampai kemudian Gubernur Soeprapto mengirim perintah kepada Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) yang pada saat itu dijabat oleh Hutomo Mandala Putra, yang akrab dipanggil Tommy.Yang intinya, boleh menggunakan sirkuit Ancol sampai ada penggantinya.

Dalam pekembangannya, luas area sirkuit Ancol yang semula 40 hektar jadi mengecil yang menyisakan luas lahan sekitar 12 hektar. Sarana di dalam arena sendiri banyak yang rusak.Barangkali satu-satunya yang masih mulus pada saat itu hanya lintasan sirkuitnya sendiri.Hingga pada akhirnya Sirkuit Ancol pun ditutup pada tahun 1992, digantikan oleh Sirkuit Sentul yang berada di Bogor yang berjarak 40 km dari Jakarta.

Info terbaru,  sirkuit Ancol bakal kembali dihidupkan setelah pemprov Jakarta menetapkan lokasi sirkuit untuk Formula E. Sirkuit Ancol pun akan dibangun mengikuti spesifikasi FEO dan FIA, ditargetkan rampung pada April 2022 dan diberi nama International E-Prix Circuit (JIEC).

Dalam sketsa desain sirkuit Formula E, yang berbentuk kuda lumping, diketahui memiliki panjang lintasan 2,4 kilometer, lebar 12 meter dan 18 tikungan.Nantinya sirkuit dibuat dengan arah lintasan searah jarum jam dan memiliki panjang 600 meter untuk trek lurus.

Dibaca 1068 kali Terakhir diubah pada Minggu, 13 Februari 2022 19:46

Chevrolet Hengkang dari Indonesia, Bagaimana Nasib Mobilnya?

Ketika sebuah Agen Pemegang Merek (APM) hengkang dari Indonesia, satu hal yang dikhawatirkan adalah ketersediaan onderdilnya. Mengingat spare part mobil sudah menjadi kebutuhan wajib, terutama komponen fast moving yang harus diganti rutin. Chevrolet adalah salah satu merek mobil yang menghentikan… Baca selengkapnya...