Loading...
en

Peringati Hari Jadi, Kota Magelang ‘Diserbu’ Lebih dari 100 Mobil Kuno

Di tengah terus bermunculannya mobil baru, mobil kuno tak lantas terbuang. Keunikannya justru memancarkan pesona tersendiri. Tak mengherankan jika mobil kuno tetap ada di hati para pecintanya. Bukan itu saja, kehadirannya melainkan juga mampu menjadi magnet tersendiri bagi khalayak umum. Tak mengherankan pawai mobil kuno selalu menyedot perhatian. Hal ini pula yang terjadi saat perayaan Hari Jadi Kota Magelang ke 1.113 pada pertengahan Mei lalu.

Saat merayakan hari jadinya tersebut, kota yang masyur dengan bangunan bersejarah Candi Borobudur itu ‘diserbu’ Lebih dari 100 mobil kuno. Mobil-mobil tersebut datang dari para anggota Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia (PPMKI) di berbagai kota di Indonesia untuk mengikuti ajang reli mobil kuno. Acara tersebut terselenggara berkat kerjasama antara PPMKI Pengurus Daerah Jawa Tengah dan pemerintah setempat serta stake holder terkait.

Reli yang diadakan pada 2019 tersebut merupakan yang ke-13. Ketua Panitia Reli Mobil Kuno PPMKI 2019, Joko Soeparno, menyebutkan jika penyelenggaraan reli yang ke-13 sebagai agenda rutin menyemarakkan Hari Jadi Kota Magelang. Acara tersebut dilepas oleh Wakil Wali Kota Magelang, Windarti Agustina pada Sabtu, (27/4/2019). Reli sendiri diselenggarakan pada 27-28 April 2019 dengan rute yang berbeda.

Pada hari pertama rute dimulai dari Magelang ke Purworejo dan kembali ke Magelang. Peserta melewati bandara YIA (Yogyakarta International Airport) di Kulonprogo. Sementara, pada hari kedua, rute pendek meliputi Magelang-Borobudur-Magelang. Rute yang ditempuh tersebut merupakan rute kawasan wisata. Dengan demikian, kegiatan tersebut sekaligus untuk memperkenalkan objek wisata yang dilaluinya.

Para peserta reli pada 2019 mencapai 171 mobil. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan dengan perserta tahun sebelumnya. Adapun para peserta berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari Jambi, Paiton (Probolinggo, Jawa Timur), Jakarta, Yogyakarta, Purwokerto hingga Bali. Mobil tertua yang ikut mejeng dalam acara tersebut adalah Dodge Brother tahun 1928 kapasitas 4000cc. Mobil beken di zamannya itu melenggang di barisan depan alias nomor start 1 dan dikendarai oleh Agus Syang dan kopilot Agus Sudiono.

Dalam sambutannya yang dibacakan oleh Wakil Walikota Kota Magelang Windarti Agustina sebelum mengibarkan bendera start reli, Wali Kota Magelang, Sigit Widyonindito, menybutkan supaya memanfaatkan reli mobil kuno ini sebagai saran mempererat silaturahmi sekaligus berekreasi antar anggota PPMKI.

"Jangan lupa manfaatkan kesempatan ini untuk berekreasi, bersilaturahim, mempererat persaudaraan terutama dengan sesama anggota PPMKI (Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia)," ajaknya.

Hadirnya mobil-mobil kuno tersebut bukan saja menjadi magnet wisata tersendiri, melainkan juga memberikan edukasi ke masyarakat ihwal tren perkembangan otomotif dari masa ke masa. Tak hanya itu, masyarakat juga bisa memetik pelajaran dari para pecinta mobil kuno, yaitu keuletan dan ketekunan mereka dalam merawat mobil kuno.

Seperti diketahui, merawat mobil lawas gampang-gampang susah. Kemampuan mengoprek saja tak cukup tanpa dibarengi dengan sifat telaten, sabar dan tekun. Pasalnya, barang yang dirawat sudah seharusnya ‘pensiun’, sehingga membutuhkan perawatan ekstra.

"Kita jadi bisa belajar bagaimana kecintaan, ketekunan dan ketelatenan, menjadi hal penting dalam merawat segala yang diamanahkan kepada kita, dalam hal ini mobil kuno. Sehingga memberi manfaat bagi sesama," papar sang Wali Kota.

Reli ini terbagi dalam beberapa karegori mobil, mulai dari kuno, retro hingga baru.

"Ada 3 kategori peserta, yakni kuno, retro dan baru. Untuk kuno lebih dari 50 persen. Para peserta tahun ini lebih banyak yang menginap di Magelang," kata Joko.

Kunjungan mereka tersebut secara tak langsung telah turut memperkenalkan Magelang yang setiap tahunnya memiliki acara reli mobil kuno. Secara detil, mobil kuno mengacu pada mobil produksi sebelum tahun 1973. Selanjutnya, mobil retro merujuk pada keluaran 1974-1984 juga termasuk mobil produksi di atas 1985.

Mengingat reli ini untuk mobil tua, tak mengherankan jika dalam gelaran reli ini pemenang bukan ditentukan berdasarkan kecepatan, tetapi ketepatan. Selain itu, ketertiban dalam berlalu lintas juga menjadi bahan penilaian.

“Penilaian pemenang juga berdasarkan disiplin berlalu-lintas saat mengikuti reli,” ungkap Joko yang juga menjabat Kepala Bappeda Kota Magelang.

Para pemenang pun diganjar dengan hadiah berupa piala bergilir Wali Kota Magelang dan uang pembinaan. Ketua PPMKI Pusat, Roni Arifudin, mengaku bangga bisa ikut menyemarakkan Hari Jadi ke-1113 Kota Magelang. Ajang ini bukan sekedar reli, melainkan juga sebagai bentuk dukungan terhadap pemerintah di sektor pariwisata sekaligus mengkampanyekan ketertiban dan keselamatan dalam berlalu lintas.

"Kami mengutamakan faktor keamanan dan ketertiban, meskipun kuno tapi mobil-mobil kami sesuai regulasi dan standar, mulai dari rem hingga sabuk pengaman. Kami juga ikut kampanye safety riding kepolisian di 14 pengurus daerah (Pengda) di seluruh Indonesia," katanya.

Joko kembali menambahkan jika pada 2020 reli PPMKI di Magelang akan digelar dengan lebih meriah dan hadiah yang lebih besar. Hal ini sebagai wujud dukungan terhadap program Pemerintah Kota Magelang 2020 "Magelang Moncer Serius". Seperti apa kira-kira spektakulernya reli mobil kuno di Magelang tahun depan? Kita nantikan kejutannya!